RSS Feed

Ujung Genteng


Hari pertama

Tujuan liburan keluarga kali ini adalah Ujung Genteng yang terletak +/- 120km dari kota sukabumi atau +/- 70km dari Pelabuhan Ratu. Kami berangkat agak kesiangan +/- jam 10:00 pagi, sehingga perjalanan menuju kota Sukabumi pun sudah mulai padat, tapi kami beruntung karena cuaca pada hari itu tidak terlalu panas, bahkan setiba di Pelabuhan Ratu kami disambut dengan hujan rintik2.

Jalan dari Pelabuhan Ratu menuju Ujung Genteng cukup relatif bagus, hanya kecil dan sedikit berkelok. Tetapi karena hari sudah mulai sore, hujan dan kabut pun mulai turun, sehingga kami harus extra hati-hati dalam mengemudi.

Akhirnya kami tiba di Ujung Genteng pada jan 19:00 malam, tanpa penginapan yang telah kami pesan.
Jadi setiba di sana kami memulai acara dengan mencari penginapan yang masih tersedia.
Hampi disetiap Penginapan masih ada kamar kosong yang tersedia, karena memang akhir bulan November belum musim berlibur. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di sebuah pondokan sederhana dengan nuansa rumah panggung lengkap dengan dinding gedeg dan atap sirapnya. Setelah makan malam kami pun mulai bersiap untuk perjalanan malam, yaitu menyaksikan penyu bertelur.

Cukup sulit perjalanan yang di tempuh menuju kawasan tempat penyu bertelur, jalan yang berlubang-lubang dan tidak ada nya penerangan jalan. Sesampai di kawasan tersebut kami wajib membayar restribusi sebesar Rp. 5,000,- perorang.
Pangumbahan, nampaknya merupakan objek wisata yang cukup unik dikawasan ini. Melihat penyu bertelur ditepi pantai saat malam hari jelas merupakan even yang langka bagi sebagian orang dan tidak semua objek wisata pantai memilikinya. Penyu yang bertelur dikawasan ini merupakan jenis penyu hijau yang merupakan binatang yang hidup di air laut. Penyu hijau dapat berkembang sampai mencapai lebih dari 1 meter panjangnya, lebih dari 200 kg beratnya dan hidup lebih dari 100 tahun.




Sebelum penyu mulai bertelur disarankan agar tidak menimbulkan kegaduhan atau keributan, dan juga disarankan tidak membawa penerangan dalam bentuk apapun karena hal ini bisa menjadikan sang penyu enggan bertelur dan kembali lagi ke arah laut. Begitu telur mulai dikeluarkan barulah kita bisa mendekat dan mengamatinya dengan menggunakan senter atau alat penerangan lain.
Nampaknya bila penyu sudah mulai mengeluarkan telurnya, akan mengalami kesukaran untuk menghentikannya, dan jumlah telur yang dikeluarkan dari seekor penyu hijau bisa mencapai 200 butir.

Hari kedua

Ujung genteng memang merupakan objek wisata yang cukup menarik, pantainya yang masih bersih dan alami memiliki pesona tersendiri untuk dikunjungi. Pada beberapa bagian pantai terdapat area yang cocok untuk bermain atau sekedar berendam dilaut, hal ini disebabkan karena kedalamannya hanya sepangkal paha saat laut pasang dan bila sedang surut hanya sekitar sebetis kaki dan yang lebih menarik lagi tidak ada ombaknya tapi hanya arus pelan yang bergeser dari kanan kekiri.


Muara Cipanarikan, merupakan salah satu objek wisata lain yang menarik di ujung genteng. Muara ini merupakan tempat bertemunya sungai cipanarikan dengan laut.
Sungai Cipanarikan membentuk alur membelok terlebih dahulu sebelum masuk kelaut, sehingga terbentuk hamparan pasir yang cukup luas dengan bentuk pasir yang sangat halus, sangat cocok sebagai tempat bermain pasir bagi anak-anak.

Cibuaya, Lokasi yang cocok untuk berendam atau berenang karena merupakan cekungan pantai yang memiliki kedalaman yang bervariasi, dari mulai 0,5 meter sampai 6 meter. Didalamnya juga terdapat trumbu karang yang indah. Lokasinya sangat cocok untuk menikmati matahari sore, juga memiliki air laut yang cukup bersih dan jernih. Terkadang bila musim ikan kakap atau krapu, cibuaya merupakan tempat ideal untuk memancing.


Secara keseluruhan masih ada beberapa tempat yang belum terjamah yang memiliki tempat yang indah. Meskipun demikian, kawasan wisata Ujunggenteng juga memiliki tempat penginapan dengan tarif mulai dari 125.000 hingga 750.000 rupiah.

Sebagai catatan: didaerah ujung genteng masih ada malaria, mungkin dikarenakan area ini bersebelahan dengan hutan lindung, jadi bila akan berkunjung kesana ada baiknya membawa pil kina, juga makanan dan minuman ada baiknya kita bawa sendiri karena disana masih tergolong daerah pesisir yang kurang berkembang pariwisatanya.

About Susan Harsawardana

A lucky wife of a fabulous husband and proud mom of a good children. Homemaker, love Yoga and do some online business ; design, caricature and as Independent Oriflame Consultant

3 responses »

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

    Reply
  2. Saya juga pernah kesana beberapa kali , memang takjub melihat penyu raksasa bertelur ,katanya penyu itu ada yang datang dari benua afrika…..wah…jauh nian perjalannya ya…!!
    Cerukan pantainya juga enak untuk berenang cuma pasirnya enggak halus seperti di pantai pantai yang lain….
    di tunggu pengalaman selanjutnya….

    Reply
    • sebenarnya, kalau mau sedikit repot … karena lokasinya lebih jauh, pasir di tempat penyu bertelur justru halus sekali ….
      Dan itu menjadi salah satu alasan mengapa penyu memilih tempat tersebut sebagai tempt bertelur … berpasir halus dan sepi.

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: